• Beranda
  • Twitter
  • Pesbuk
  • Sosbud
  • Polhuk
  • Sastra
  • Kesehatan
  • Hiburan
  • Asal Mula
  • PKn
  • SKI
  • Biologi
  • Fisika
  • Soekarno-Hatta dan Janda Bodong

    Perjalanan menuju tempat kerja pagi itu menarik. Di perempatan Soekarno-Hatta lampu merah menyala, saya berhenti, lalu tiga anak berdiri di depan kami. Satu gadis kecil seusia anak kelas 3 SD membawa "tam-tam", dua bocah yang lebih kecil lainnya berdiri di tempat lain dan masih di depan kami. Merekapun bernyanyi.

    Suamiku tergila-gila janda muda beranak dua
    minta ijin berpoligami, aku tak sudi

    Banyak pengguna jalan senyum-senyum melihat ketiga bocah ingusan itu. Tak pernah nyangka anak sekecil itu menyanyikan lagu tentang seorang suami yang tergila-gila pada janda. Saya belum tahu lagu yang mereka nyanyikan itu lagunya siapa. Sepulang dari tempat kerja saya langsung cari lagu berlirik seperti itu.

    Ternyata bro, judul lagu itu "Janda Bodong". Langsung saja saya download dan dengarkan baik-baik.

    Suamiku tergila-gila janda muda beranak tua
    minta ijin berpoligami, aku tak sudi
    gara-gara tak mau dimadu, mereka pergi meninggalkanku
    tak pernah pulang-pulang lagi, ku sakit hati

    bilang tak berani, kau tiru cara sensasi
    kau talak, kau cerai diriku lewat sms
    mana kejantananmu, mana hati nuranimu
    kau buang diriku bagaikan baju rombeng

    aku si janda bodong, suami minggat kecantol kalong
    istri bukan, janda bukan, statusku digantung-gantung
    aku si janda bodong, surat cerai kosong melompong
    istri bukan, janda bukan, nasibku digantung-gantung

    janda bodong, janda bodong, korban egonya lelaki
    janda bodong, janda bodong, korban poligami
     

    Kebayang gak, anak usia 9 tahun, 5 tahun dan 4 tahun menyanyikan lagu seperti itu. Dan aku sih gak kepikiran, apa iya anak seusia itu sudah memahami maksud lirik lagu itu tentang apa dan bagaimana? Kalau iya mereka ngerti, kan ngeri. Seingat saya, dulu waktu kecil, anak-anak begitu banyak disuguhi lagu Maisyi, Joshua, Trio Kwek-Kwek, Chikuita Meydi, dan lain-lain. Bocah sekarang nyanyiannya "Janda Bodong". Hahahaha

    Pembuat lagu-lagu sekarang ini makin jarang yang memperhatikan kualitas konten. Yang penting laku dijual, lirik selacur apapun tak perduli. Dengan dalih seniman harus jujur, mereka tuliskan apa saja yang tampak di masyarakat dalam sebuah lagu. Iya, memang ada suami-suami yang gampang tergoda janda. Tapi rasanya tak perlu dibuatkan lagunya. Mending kalau bahasanya menarik, ini mah ceplas-ceplos.

    Lagu-lagu dangdut belakangan ini memang berlirik ceplas-ceplos. Bahkan di beberapa lagu banyak istilah-istilah yang tidak pantas. Misalnya: "Buka sitik, joss!". Gak enak banget didengernya. Itu maksudnya kemana coba? Kalaupun itu ambigu, ya makna pertama pasti soal yang porno-porno. Mau sampai kapan seperti itu? Kapan ada lagu dangdut yang asik lagi? Kalau sebuah karya tidak ada pesan positif di dalamnya, umurnya tak akan lama.

    Kita gak bisa salahkan pembuat lagu, karena mereka hanya ikuti selera pasar. Artinya masyarakat kita mulai akrab dengan porno-porno dan ceplas-ceplos, sehingga lagu yang mewakili kedua hal itu yang paling mudah diterima. Bagi penyanyi dan industri musik, diterimanya lagu mereka tentu berbuah keuntungan. Namun bagi masyarakat, yang sering didengar akan sangat mempengaruhi karakternya. Coba bandingkan anak yang hidup di keluarga yang berbahasa santun dengan anak yang besar di keluarga yang kesehariannya berbahasa kasar. Mereka ikut terbawa, terpengaruhi. Beda sekali.

    Terus ayeuna kudu kumaha?? Pikiran we olangan.. hehehehe :P
    *****

    - Eki P. Sidik -

    0 comments

    Posting Komentar