• Beranda
  • Twitter
  • Pesbuk
  • Sosbud
  • Polhuk
  • Sastra
  • Kesehatan
  • Hiburan
  • Asal Mula
  • PKn
  • SKI
  • Biologi
  • Fisika
  • Benarkah Kita Cinta Nabi?

    Hanya beberapa saja tulisan kompasianer tentang Maulid Rasulullah Muhammad SAW. Yang ditulis kebanyakan adalah orang lain di luar Nabi. Semoga tak kita tuliskan dalam untaian kata, nama manusia mulia itu tetap ada di dalam hati kita semua.

    Berat memang menulis tentang Rasulullah, bagaimana tidak, kita tak pernah benar-benar mengenalnya. Maaf, maksud saya, kita tidak pernah benar-benar ingin mempelajari apapun tentang beliau. Lebih senang borong biografi orang lain ketimbang Nabi. Padahal sepenuh kehidupan nabi adalah sumber segala teladan terbaik.

    Kita ini lalai, mengaku cinta nabi tapi dengar ceramah tentang pesan nabi seperti mendengar dongeng. Cuma selewat, udah, ya kita biarkan lewat. Nabi ajaran tentang HAM yang sempurna lewat Piagam Madinah, dengan ngaconya kita mengiblatkan pikiran pada doktrin-doktrin HAM ala barat yang nyatanya datang belakangan. Rasulullah ajarkan makan sambil duduk, kita merasa kampungan kalau hajatan di gedung tanpa standing party.

    Rasulullah wanti-wanti tentang betapa hinanya urusan dunia, hingga beliau hidup sederhana walaupun sudah jadi pemimpin negara. Kita begitu memuliakan dunia, sikut kanan sikut kiri, fitnah sana fitnah sini, demi jabatan politik maupun pekerjaan. Kita lalaikan shalat waktu mencari uang. Begitu kalahnya kita dengan dunia, padahal saban hari kita pekikkan kalimat: “simpan dunia di tangan, bukan di hati!”. Semua omong kosong, praktiknya, besar infaq ke masjid bahkan tak sepersepuluh dari uang makan sekali.

    Rasulullah berakhlak sangat mulia, bahkan kepada yang mendzoliminya. Kita seolah gak akan hidup tanpa berselisih dengan orang yang berlainan pendapat. Beda pilihan politik saja, ributnya sampai hari ini. Nabi tak pernah ingin diistimewakan selama hidup di dunia, bahkan beliau bikin perapian untuk pasukannya dengan tanggannya. Kita lihat pegawai SPBU lupa tersenyum saja sebalnya bisa seharian.
    Rasulullah pemimpin keluarga terbaik sepanjang masa. Kita sudah merasa jadi orangtua paling benar dengan membentak anggota keluarga. Rasulullah yang tahu dapat jaminan surga shalat malamnya berjam-jam, kita baru shalat lima waktu tanpa shalat sunah saja sudah merasa diri pemilik surga dan neraka.

    Lisan kita ngaku cinta betul pada Nabi, tapi kita alergi bahkan hanya untuk mengutip hadits nabi, lebih bangga mengutip kata-kata orang selainnya. Kita lebih senang baca buku-buku karya ilmuwan eropa, penyair itu ini, tapi Al-Quran yang begitu dipegang teguh Nabi, yang syair manapun takkan pernah ada yang bisa membandingi keindahannya, yang ilmu manapun takkan bisa gugurkan kebenarannya, tak pernah kita sentuh, hanya kita jadikan penghias tempat buku, dan sesekali dibuka ketika bulan Ramadhan tiba.

    Benarkah kita cinta Nabi? Kita yang masih senang nyinyiri orang lain yang berusaha ikuti Nabi. Kita sebut mereka munafik, kita sebut mereka so’ suci, kita sebut mereka ketinggalan jaman, kita sebut mereka tidak toleran. Benarkah kita cinta Nabi? Idola kita orang lain, panduan hidup kita bukan petunjuk Nabi. Benarkah kita cinta Nabi? Nabi cinta kebersihan, kita buang sampah sembarangan.

    Cinta Nabi pada umatnya lebih luas dari semesta. Bahkan di penghujung hayat ia sebut umatnya berkali-kali. Tak merasa jadi pengkhianatkah kita, yang ingin dapat syafaat Nabi tapi tak pernah menyambut cinta Nabi dengan kesepenuh-hatian menuntun diri pada suri tauladannya? Tidak merasa jadi pengecutkah kita, ketika bilang cintai Nabi, tapi orang menghina Nabi kita masih bisa tertawa-tawa?

    Kata Nabi, kelak di akhirat, kita semua akan bersama dengan yang kita cintai selama hidup di dunia. Jangan-jangan cinta kita pada Nabi hanya terucap dalam kata, jangan-jangan cinta kita pura-pura, jangan-jangan kita berdusta. Di akhirat tak bisa bohong. Di pengadilan Allah tak bisa gunakan jasa pengacara, pengacara manapun disana diadili juga. Sedang Allah Maha Tahu segala isi hati, adakah cinta yang kita lisankan untuk Nabi itu Allah akui? Atau kelak Allah sebut kita pendusta karena hidup kita nyatanya bukan meneladani Nabi?

    Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa’ala ali Muhammad

    Semoga Allah masih beri kita hidayah untuk terus bershalawat, semoga Allah tak cabut hidayah dari kita yang lalai untuk teladani Rasulullah, makhluk yang dimuliakan penduduk langit dan bumi.
    *****

    - Eki P. Sidik -

    0 comments

    Posting Komentar