• Beranda
  • Twitter
  • Pesbuk
  • Sosbud
  • Polhuk
  • Sastra
  • Kesehatan
  • Hiburan
  • Asal Mula
  • PKn
  • SKI
  • Biologi
  • Fisika
  • Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kebudayaan Islam. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kebudayaan Islam. Tampilkan semua postingan

    Isi Piagam Madinah

    Salah satu dari sekian langkah pertama Nabi SAW setelah hijrah dari Mekah ke Madinah adalah mewujudkan kerukunan antar penduduk Madinah. Seperti kita ketahui bahwa pada masa itu, di Madinah hidup berbagai penduduk yang beragam keyakinan. Selain ada muslim (Aus dan Khazraj) yang berjumlah sekitar 1.500 jiwa, juga ada orang-orang Yahudi yang terdiri atas 3 suku besar yakni Quraizhah, an-Nadhir, dan Qainuqa. Juga ada kaum musyrik.

    Seperti ditunjukkan langsung oleh Nabi, muslim harus selalu bersemangat untuk menggalang kerukunan. Ini dibuktikan Nabi dengan merumuskan apa yang kemudian dikenal sebagai "Piagam Madinah" dan diberlakukan untuk seluruh penduduk Madinah saat itu yang beragam. Ada dua pendapat mengenai Piagam Madinah. Pendapat pertama menyatakan bahwa Piagam Madinah terdiri atas dua piagam; satu berkaitan dengan penduduk Yahudi, satu lainnya tentang hak dan kewajiban muslim. Kita tidak perlu perdebatkan itu karena banyak Siroh Nabi yang sudah mencatat apa saja butir-butirnya.

    Isi Piagam Madinah:
    1. Kaum Muslim, baik yang di Mekah maupun yang bermukim di Yastrib (Madinah), serta yang mengikut dan menyusul mereka dalam berjuang bersama adalah satu umat (kesatuan).

    2. Kaum Muhajirin dari kalangan Quraisy tetap dapat melaksanakan adat kebiasaan mereka yang baik dan berlaku di kalangan mereka, seperti bersama-sama menerima dan membayar tebusan darah diantara mereka dengan cara yang baik dan adil di antara sesama orang Mukmin, demikian juga Bani 'Auf menurut adat adat kebiasaan mereka yang baik.

    3. Orang-orang beriman harus membantu sesama Mukmin dalam memikul beban utang yang berat atau dalam membayar tebusan tawanan dan diyah.

    4. Orang mukmin harus melawan orang-orang yang melakukan kejahatan/permusuhan dan perusakan walau terhadap anak-anak mereka.

    5. Orang mukmin tidak boleh membunuh orang mukmin demi kepentingan orang kafir.

    6. Siapapun dari kalangan orang Yahudi yang bersedia memihak kepada kelompok/mengikuti kaum muslim, maka ia berhak mendapatkan pertolongan dan persamaan.

    7. Persetujuan damai orang-orang mukmin sifatnya satu, sehingga tidak dibenarkan seorang mukmin mengadakan perjanjian sendiri dan meninggalkan mukmin lainnya dalam keadaan perang di jalan Allah.

    8. Tidak dibenarkan melindungi harta dan jiwa kaum Quraisy (yang kafir) dan tidak boleh merintangi orang beriman dalam perjuangannya.

    9. Bilamana terjadi perselisihan antara "penandatangan piagam ini", maka keputusan dikembalikan kepada Rasul saw.

    10. Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya perang (pertahanan) selama masih dalam keadaan perang.

    11. Masyarakat Yahudi Bani 'Auf adalah satu umat (kesatuan masyarakat) dengan orang-orang beriman. Masyarakat Yahudi bebas melaksanakan agama mereka dan kaum muslim pun demikian, bahwa tidak seorangpun diantara mereka yang keluar, kecuali atas izin Muhammad (saw).

    12. Seseorang tidak boleh dihalangi dalam menuntut haknya. Barang siapa yang diserang, maka ia bersama keluarganya harus menjaga diri, kecuali yang berlaku aniaya.

    13. Orang Yahudi menanggung nafkah sesama mereka, orang-orang mukmin pun demikian. tetapi, mereka semua (mukmin dan Yahudi) harus saling membantu menghadapi pihak yang menentang piagam ini. Mereka semua sama-sama berkewajiban nasihat menasihati, bantu-membantu dalam kebajikan, dan menjauhi dosa dan keburukan.

    14. Seseorang tidak boleh melakukan keburukan kepada sesamanya dan bahwa pertolongan/pembelaan harus diberikan kepada yang teraniaya.

    15. Kota Yastrib adalah kota "Haram" (suci/terhormat) bagi para penandatangan piagam ini. Kota yang dihormati tidak boleh dihuni tanpa izin penduduknya.

    16. Siapapun yang keluar atau tinggal di kota Yastrib, maka keselamatannya terjamin, kecuali yang melakukan kezaliman/kejahatan.


    Demikian isi Piagam Madinah ini kami kutip dari siroh nabi. Pasti diantara pembaca ada yang setelah membacanya menyimpan banyak pertanyaan. Selamat membaca riwayat lengkapnya di siroh-siroh nabi, kenapa begini dan kenapa begitu. Semoga bermanfaat.

    Hasil gambar untuk kota madinah

    Renungan Pagi Peduli Tolikara

    KALAU ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Kemenag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas.Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

    Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

    “Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

    Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.

    Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.

    Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

    Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”

    Lho kok Arab bukan etnis?
    Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama- sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

    Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-sakib…”, itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.

    Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

    “Al-Islamu mahjubun bil-muslimin “. Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.
    Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor – maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera merevisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan ‘sidang pleno’ yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.

    Sumber: Buku Iblis Nusantara Dajjal Dunia (Krisis Kita Semua) tahun 1998 karya Emha Ainun Nadjib

    sumber gambar: republika

    Penyakit "Saya Mendengar Sendiri"

    Kelak ia dikenal sebagai Amirul Mukminin fil Hadits. Lahir di Bukhara, Uzbekistan, Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju'fi al-Bukhari atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Bukhari merupakan salah satu guru dari Imam Muslim, meskipun di dalam Shahih Muslim tidak ada jalur periwayatan melalui Imam Bukhari. Dan ini ada cerita yang sangat khusus.

    Tahun 250 Hijriyah, Imam Bukhari datang ke Naisabur dan menetap di sana. Sekarang Naisabur merupakan salah satu kota di Provinsi Razavi Khorasan, Iran. Di sana tinggal seorang 'alim ahli hadits, hafidz (penghafal hadits) dan guru dari para ulama. Namanya Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli atau dikenal juga dengan Muhammad bin Yahya An-Naisaburi. Ia berkata kepada murid-muridnya tentang Imam Bukhari di saat awal tinggal di Naisabur dan memiliki majelis hadits, “Pergilah kalian kepada lelaki salih dan berilmu ini, supaya kalian bisa mendengar ilmu darinya.”

    Menurut sejarah, Imam Bukhari pernah berguru kepada Imam Adz-Dzuhli. Sosok lain yang pernah berguru kepada Imam Adz-Dzuhli adalah Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kausyadz Al-Qusyairi An-Naisaburi. Kun-yahnya Abul Husain, tapi terkenal dengan sebutan Imam Muslim. Beliau berguru kepada Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli hingga memuncaknya fitnah terhadap Imam Bukhari, yakni tatkala Adz-Dzuhli mengeluarkan ancaman agar meninggalkan majelisnya apabila masih tetap mengambil ilmu dari Imam Bukhari.

    Apa sebabnya Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli bersikap sangat keras terhadap muridnya sendiri, seseorang yang bahkan ia serukan manusia untuk berguru kepadanya? Ini berhubungan dengan merebaknya fitnah syubhat dari kalangan Jahmiyah yang ketika itu sedang bergejolak. Kelompok Jahmiyah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, dan ini merupakan kerusakan yang sangat besar. Dalam hal ini, Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli sebenarnya telah memperingatkan murid-muridnya agar tidak bertanya kepada Imam Bukhari persoalan yang sensitif ini karena khawatir memicu fitnah. Kata Adz-Dzuhli, “Janganlah kalian tanyakan kepadanya mengenai masalah al-Kalam (keyakinan tentang al-Qur’an kalamullah). Karena seandainya dia memberikan jawaban yang berbeda dengan apa yang kita anut pastilah akan terjadi masalah antara kami dengan beliau, yang hal itu tentu akan mengakibatkan setiap Nashibi (pencela ahli bayt, anti tesis Syiah), Rafidhi (Syiah), Jahmi, dan penganut Murji’ah di Khorasan ini mengolok-olok kita semua.”

    Kekhawatiran Imam Adz-Dzuhli pada akhirnya terjadi. Tetapi ini bukan peristiwa yang tiba-tiba. Kedatangan Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari di Naisabur yang segera menarik segenap perhatian muslimin yang haus ilmu, menjadikan beberapa ulama di Naisabur memiliki ghil maupun hasad terhadap Imam Bukhari. Di antara mereka kemudian melontarkan tuduhan bahwa Imam Bukhari berpaham Jahmiyah, yakni meyakini Al-Qur’an itu makhluk. Bukan kalamuLlah. Sementara para ulama ahlussunnah sepakat bahwa keyakinan ini merupakan bid’ah yang sangat besar dan majelis ilmunya tidak layak didatangi. Sikap terbaik terhadap Jahmiyah adalah menjauhi majelisnya sejauh-jauhnya.

    Terjadilah apa yang terjadi. Seorang laki-laki bertanya kepada Imam Bukhari di majelis ilmunya, “Wahai Abu Abdillah, apa pandanganmu mengenai melafalkan al-Qur’an? Ia makhluk atau bukan makhluk?”

    Mendengar pertanyaan itu, Abu Abdillah –kun-yah dari Imam Bukhari—berpaling dan tidak mau menjawab. Laki-laki itu bertanya sampai tiga kali dan Imam Bukhari tetap tidak mau menjawab. Laki-laki itu pun memaksa, dan pada akhirnya Imam Bukhari menjawab,“Al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Sementara perbuatan hamba adalah makhluk. Dan menguji seseorang dengan pertanyaan semacam ini adalah bid’ah.”

    Dalam riwayat lain, Imam Bukhari menjawab dengan, “Perbuatan kita adalah makhluk. Sedangkan lafal kita termasuk perbuatan kita.”

    Ini adalah jawaban yang sangat tegas dan ringkas. Al-Qur’an adalah kalamuLlah. Perkataan Allah. Bukan makhluk. Perbuatan manusia adalah makhluk, termasuk ketika membaca Al-Qur’an, tetapi bukan bacaan itu sendiri. Ini merupakan persoalan yang pelik, meskipun sebenarnya sederhana, bagi orang awam maupun mereka yang tergesa-gesa memahami. Perbuatan kita melafalkan adalah makhluk, tapi lafal Al-Qur’an merupakan kalamuLlah. Itu sebabnya, dalam pembahasan ini pun saya perlu mengulang-ulang, sekedar untuk mengingatkan agar tidak tergesa-gesa dalam membaca dan memahami. Jangan gunakan speed-reading saat membaca topik semacam ini. Dapat menjerumuskan dan membahayakan.

    Sekali lagi, sangat jelas, ringkas dan tegas jawaban Imam Bukhari bahwa Al-Qur’an adalah kalamuLlah, sementara perbuatan kita adalah makhluk. Tetapi jawaban Imam Bukhari ini segera menyebar secara berbeda. Mereka mengatakan Imam Bukhari berpendapat bahwa Al-Qur’an yang kita lafalkan adalah makhluk. Padahal amat sangat berbeda antara perbuatan kita melafalkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an yang kita lafalkan.

    Jawaban yang telah bergeser dari ucapan Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari yang sebenarnya ini akhirnya sampai kepada Imam Muhammad bin Yahya An-Naisaburi. Seorang ahli hadits yang memiliki disiplin sangat ketat dalam menerima kabar, kali ini lalai menelisik lebih teliti disebabkan berita itu berasal dari mereka yang bermajelis dengan Imam Bukhari. Sementara Jahmiyah merupakan isu yang paling sensitif saat itu. Beliau bahkan sampai berkata, “Al-Qur’an adalah kalamuLlah, bukan makhluk. Barangsiapa yang menganggap bahwa Al-Qur’an yang saya lafalkan adalah makhluk maka dia adalah ahli bid’ah. Tidak boleh bermajelis kepadanya, tidak boleh berbicara dengannya. Barangsiapa setelah ini pergi kepada Muhammad bin Isma’il maka curigailah dia. Karena tidaklah ikut menghadiri majelisnya kecuali orang yang sepaham dengannya.”

    Serta merta menerima tanpa menelisik lebih dulu perkataan seseorang yang hadir dalam satu majelis inilah yang saya sebut sebagai penyakit “saya mendengar sendiri secara langsung”. Seolah hadir di majelis itu menjamin ketepatan informasi 100%. Padahal alangkah sering mustami’in (audiens) menangkap secara berbeda, bahkan bertentangan, dengan apa yang disampaikan oleh narasumber.

    Menganggap Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il sebagai orang yang meyakini seburuk-buruk paham tentang kedudukan Al-Qur’an merupakan prasangka yang belum dipenuhi haknya. Apa hak orang yang dikenai desas desus? Tabayyun dan tatsabbut untuk memastikan bahwa Imam Bukhari benar-benar berpaham demikian. Tetapi sebelum keduanya dipenuhi, kekhawatiran Muhammad bin Yahya An-Naisaburi telah mendahului kehati-hatiannya, bahkan sampai menganggap setiap yang bermajelis dengan Imam Bukhari pasti sama sesatnya. Ini terlihat dari peringatan kerasnya, “Barangsiapa setelah ini pergi kepada Muhammad bin Isma’il maka curigailah dia. Karena tidaklah ikut menghadiri majelisnya kecuali orang yang sepaham dengannya.”

    Pola pikir semacam ini agaknya terus hidup hingga zaman ini, sehingga mudah sekali orang menyimpulkan dan memastikan kerusakan aqidah seseorang hanya karena sepotong informasi yang –sekali lagi—masih memerlukan tabayyun dan tatsabbut.

    Pernyataan Imam Muhammad bin Yahya An-Naisaburi tersebut merupakan ucapan yang keras sekaligus hukuman sangat berat. Itu sebabnya, murid-murid Imam Bukhari segera berguguran, tidak lagi mengambil riwayat darinya, kecuali Muslim bin Hajjaj (yang masih tetap berguru kepada Imam Muhammad bin Yahya An-Naisaburi) dan Ahmad bin Salamah. Sikap Imam Muslim ini menyebabkan Imam Adz-Dzuhli bersikap lebih keras lagi dengan mengatakan, “Ketahuilah, barangsiapa yang ikut berpandangan tentang lafal maka tidak halal hadir dalam majelis kami.”

    Perkataan ini menyebabkan Imam Muslim mengambil keputusan dramatis. Beliau melepas selempangnya, meletakkan catatan di atas imamah (penutup kepalanya), berdiri di hadapan banyak orang dan meninggalkan majelisnya secara terbuka. Imam Muslim kemudian mengirimkan seluruh catatan yang didapat dari majelis hadis Imam Dzuhli ini di atas punggung onta. Ia kirimkan seluruhnya kepada Imam Adz-Dzuhli. Imam Muslim tetap menjalin hubungan yang sangat baik, berguru kepada Imam Bukhari, tetapi tidak meriwayatkan melalui jalur Imam Bukhari. Beliau memilih untuk mendatangi gurunya Imam Bukhari sehingga jalurnya langsung dari gurunya. Ia berkata kepada Imam Bukhari, “Tidak ada yang membencimu kecuali seorang yang hasad. Aku pun bersaksi bahwa tidak ada di dunia ini orang yang seperti engkau.”

    Ada pelajaran menarik dari Imam Muslim. Meskipun tidak lagi mengambil ilmu dari Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, tetapi ia tetap menjaga adabnya dan menjunjung kehormatan gurunya. Ia menjaga perasaan gurunya agar tidak terjadi fitnah yang lebih luas. Ia mengambil sikap tidak meriwayatkan dari kedua ahli hadis terkemuka ini, baik melalui Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli maupun Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari.

    Berkait dengan rontoknya murid Imam Bukhari, ada pelajaran berharga yang patut kita ambil. Rontoknya murid tidak menjadikan Imam Bukhari berhenti mengajarkan hadits Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang sangat berharga. Ia tetap istiqamah, meskipun muridnya sangat sedikit. Ia tetap gigih mengajar, meskipun sebagian besar muridnya tidak berani mendatangi majelisnya.

    Apakah rontoknya murid menyebabkan keutamaan dan kemuliaan Imam Bukhari hancur? Tidak. Berita bohong itu tidak mendatangkan madharat baginya. Bahkan kebaikan yang sangat besar. Allah Ta’ala kelak meninggikan keutamaan Imam Bukhari dalam hal hadits di atas para ulama yang lainnya. Imam Bukhari dan murid setianya, Imam Muslim, kelak dikenal sebagai dua ahli hadits paling terpercaya. Kalau kemudian Imam Bukhari memilih meninggalkan Naisabur di Khorasan untuk kembali ke kampungnya di Bukhara, Uzbekistan, adalah demi menghindarkan fitnah yang lebih besar bagi ummat Islam.

    Langkah Imam Bukhari kembali ke kampungnya dan mengajar di sana ternyata bukan sepi dari fitnah. Sebagaimana di Naisabur, kedatangan Imam Bukhari disambut gegap gempita oleh penduduk kampungnya. Kali ini fitnah tersebut datang dari gubernur Bukhara sendiri, yakni Khalid bin Ahmad Adz-Dzuhli. Kelak Khalid Adz-Dzuhli dihukum oleh Sultan Uzbekistan di masa itu, yakni Ibnu Thahir.

    Imam Bukhari akhirnya memilih pindah ke Khartand, sebuah desa kecil di Samarkand, atas permintaan muslimin di Khartand. Sekarang Samarkand masuk wilayah Uzbekistan. Mereka inilah penolong Imam Bukhari (trenyuh saya saat mengingat ini, membawa angan-angan saya ke bumi Madinah tempat kaum Anshar dahulu berasal). Beliau wafat di sana tepat di hari ‘Idul Fithri 256 Hijriyah.

    Masih banyak yang ingin saya bincangkan. Tapi sepertinya perlu terpisah agar catatan ini tidak terlalu panjang. Selebihnya, jika seorang 'alim sekelas Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli saja dapat terjatuh pada kekhilafan semacam itu disebabkan mendapatkan berita dari orang yang mendengar sendiri, bagaimana dengan kita yang sedikit ilmu dan kurang hati-hati ini?

    Semoga Allah Ta'ala merahmati Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, Imam Muslim, Imam Bukhari dan murid-murid mereka yang tegak di atas sunnah.
     
    sumber: https://goo.gl/DpJ2Hc
     
    ----------------------------
    ~ Ust. Fauzil Adhim ~ 
    ----------------------------
     

    sumber gambar: https://goo.gl/H0V8jj

    Shalat menghadap Ka'bah

    Salah satu kesalah pahaman non Muslim terhadap Islam adalah seolah shalat menghadap Ka'bah itu menyembah obyek (bangunan batu yang bernama Ka'bah). 

    Simak dialog berikut untuk menenukan jawabannya: 

    Si A: mengapa orang Islam menyembah kotak hitam?
    Ustadz : salah tu bro. Umat Islam ga menyembah kotak hitam, tapi menyembah Allah.
    Si A : bukankah orang Islam sembahyang menghadap Ka'bah, satu kotak yang berwarna hitam? Apakah Allah itu ada di dalam Ka'bah?

    Belum sempat sang ustadz menjawab, terdengar handphone nya si A berbunyi. Si A menjawab panggilan teleponnya, sementaran sang ustadz dengan sabar menanti. Setelah si A selesai menjawab panggilan di handphone nya, dia memandang sang ustadz. Sang ustadz tersenyum.

    Si A : mengapa tersenyum? Apa jawaban dari pertanyaan saya tadi?
    Ustadz : hmm..perlukah saya menjawab pertanyaanmu?
    Si A : ah, pasti kau tidak bisa menjawab bukan? [tertawa]
    Ustadz : bukan itu maksud saya. Tapi saya mencoba menggunakan teori yang kau gunakan untuk membuat pertanyaan yang kau ajukan padaku. Saya melihat kau kurang menyadarinya..
    Si A : mengapa kau bicara begitu?
    Ustadz : tadi saya lihat kau bicara sendiri, ketawa dan tersenyum sendiri. Dan kau mencium HP itu sambil bicara "I love u mom"...
    Si A : saya tidak bicara sendiri. Saya bicara dengan istri saya. Dia yang telfon saya tadi.
    Ustadz : mana istrimu? Saya tak melihatnya..
    Si A : istri saya di Tuban. Dia telfon saya, saya jawab menggunakan telfon. Apa masalahnya? [nada marah]
    Ustadz : boleh saya lihat HP kamu?

    Si A mengulurkan HPnya kepada sang ustadz.
    Sang ustadz menerimanya, lalu membolak-balikan HP itu, menggoncang-goncangnya, mengetuk-ngetukHP tersebut ke meja.

    Lantas sang ustadz menghempaskannya sekuat tenaga ke lantai.. PRAKKK..PECAH..Muka si A merah menahan marah. Sementara sang ustadz menatapnya sambil tersenyum..

    Ustadz : mana istrimu? Saya lihat dia tidak ada disini. Saya pecahkan HP ini pun istrimu tetap tak terlihat di dalamnya?
    Si A : mengapa kau bodoh sekali? Teknologi sudah maju. Kita bisa berbicara jarak jauh menggunakan telfon. Apa kau tak bisa menggunakan otakmu? [jegerrr marahnya bro]
    Ustadz : Alhamdulillah [senyum]. Begitu juga halnya dengan Allah SWT. Umat Islam sembahyang menghadap Ka'bah bukan berarti umat Islam menyembah Ka'bah. Tetapi umat Islam sembahyang atas arahan Allah. Allah mengarahkan umat Islam untuk sembahyang menghadap Ka'bah juga bukan berarti Allah ada di dalam Ka'bah. Begitu juga dengan dirimu dan istrimu. Istrimu menelfon menggunakan HP, ini bukan berarti istrimu ada di dalam HP. Tetapi ketentuan telekomunikasi menetapkan peraturan, kalau ingin bicara lewat telfon harus tekan nomor yang tepat, barulah akan tersambung dan kau bisa berbicara melalu HP meski istrimu tak ada di dalamnya.

    Semoga membuka wawasan ya!

    Hasil gambar untuk kabah
    sumber: google


    -------------------------------
    ~ Imam Shamsi Ali ~
    -------------------------------

    Masjid Megah








    Akan ada masa dimana manusia saling bermegah dalam membangun masjid. Kemudian membanggakannya. Bukan memakmurkannya. 
    ---------------------
    Masjid Al-Furqon, UPI Bandung



    Hikmahnya Dituduh Syiah

    Imam Muhammad bin Jarir Abu Ja'far Ath-Thabari. Inilah 'alim besar ahlussunnah yang sangat disegani di masanya. Seorang mufassir pilih tanding dan ahli sejarah yang luar biasa mumpuni. Tetapi ia dituduh Syiah dan dihukum karenanya. Tuduhan tak berhenti meskipun tidak menemukan bukti. Justru semakin menjadi bahkan ketika Imam Ath-Thabari terbukti ahlussunnah.

    Tuduhan disertai kezaliman terhadap Imam Ath-Thabari tak mengenai kata putus hingga kematian menghampiri. Fitnah tiada henti bertubi-tubi. Tuduhan Syiah tak selesai sampai di situ. Imam Ath-Thabari juga dilarang mengajar. Majelis ilmu yang diampu, ditutup paksa karena dianggap menebarkan Syiah. Ini berlangsung hingga wafatnya di usia 85. Selama 40 tahun, Imam Ath-Thabari menghabiskan waktu untuk menulis. Setiap hari 40 halaman. Tak kurang dari 500 ribu halaman kitab penuh hikmah yang telah ia telah tulis selama 40 tahun dikucilkan.

    Meskipun sampai wafatnya tetap dituding Syiah sehingga jenazahnya tak boleh dikuburkan di siang hari, tetapi kelak namanya harum. Imam Ath-Thabari merupakan rujukan sangat terpercaya. Ia menulis banyak buku yang menakjubkan, baik ketajaman pembahasan maupun tebalnya. Salah kitabnya yang sangat legendaris adalah Jami’ al-Bayan an Ta’wil Ayi al-Qur’an atau lebih dikenal dengan sebutan Tafsir Ath-Thabari. Kitab lain yang sangat legendaris, antara lain Tarikh ar-Rusul wal Anbiya’ wal Muluk wal Khulafa’ atau dikenal dengan Tarikh Ath-Thabari.

    Kisah Imam Muhammad bin Jarir Abu Ja'far Ath-Thabari ini mengingatkan kita pada kisah Imam Syafi’i yang juga difitnah sebagai Syiah Rafidhah. Tapi tuduhan tak melemahkan. Ia difitnah, tapi namanya semakin harum dan kian tampak keunggulannya. Ia direndahkan, tapi Allah Ta'ala kian tinggikan derajatnya.

    Ia dihalangi untuk mengajar dengan tuduhan Syiah, tapi karya-karyanya melampaui batas usianya dan menjadi pengajaran bagi ahlussunnah. Serangkaian fitnah dan berita bohong tentang Imam Ath-Thabari mengingatkan kita pada ayat tentang haditsul ifk. Alangkah dekat kemiripannya. ...لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُم... "Jangan kamu kira berita bohong itu buruk bagimu bahkan ia baik bagi kamu."

    Orang-orang yang dituduh, bagi mereka tidak ada kerugian akhirat. Bahkan banyak kebaikan di balik fitnah yang gelap gulita itu. Tetapi fitnah dengan melemparkan tuduhan dusta akan menjadi bencana bagi yang menuduh dan turut menyebarkannya. Renungilah firman Allah:

    ﺇِﻥَّ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺃَﻥ ﺗَﺸِﻴﻊَ ٱﻟْﻔَٰﺤِﺸَﺔُ ﻓِﻰ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮا۟ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَاﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ ﻓِﻰ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَٱﻻْءَﺧِﺮَﺓِ ۚ ﻭَٱﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻻَ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

    "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nuur, 24: 19).

    Alangkah gelapnya azab yang menimpa. Tak cukup hanya di dunia, di akhirat masih menanti siksa yang amat pedih. Adakah kita penyebarnya? Ada dosa yang hukuman di dunia menjadi penggugur azab di akhirat. Tetapi tuduhan keji, hukumannya ganda: di dunia dan di akhirat. Nah.

    Pertanyaannya, pernahkah kita kotori lisan dan jemari kita untuk menuduh atau menyebar tuduhan? Padahal tidak ada bukti yang sangat kuat. Ingatlah, memudah-mudahkan menyebar berita bohong akan menjadi musibah bagi yang menyebarkan. Jika terhadap Aisyah radhiyallahu 'anha saja fitnah dan berita bohong mudah terjadi, padahal ia nyata-nyata istri Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam, bagaimana dengan orang lain?

    Apakah kita akan memudah-mudahkan menyebar fitnah dan dusta tanpa bukti nyata hanya karena mendengar perkataan "aku lihat sendiri"? Bukankah itu pula yang terjadi dalam peristiwa haditsul ifk? Semoga kita dapat mengambil pelajaran. Semoga Allah Ta'ala selamatkan kita.

    Salah satu karya legendaris dari Imam Ath-Thabari. Dikucilkan dan tetap istiqamah menjadi jalan bagi Imam Ath-Thabari untuk menuliskan kitab yang kelak sangat berguna bagi muslimin hingga berabad-abad kemudian. Ia meninggal tahun 310 hijriyah, tapi sampai hari ini karyanya menebar manfaat.
    Salah satu karya legendaris dari Imam Ath-Thabari. Dikucilkan dan tetap istiqamah menjadi jalan bagi Imam Ath-Thabari untuk menuliskan kitab yang kelak sangat berguna bagi muslimin hingga berabad-abad kemudian. Ia meninggal tahun 310 hijriyah, tapi sampai hari ini karyanya menebar manfaat.  

    ------------------------------------------------
    Ust. Mohammad Fauzil Adhim
    ------------------------------------------------ 

    sumber: https://goo.gl/DfBLbW